Tuesday, March 8, 2011

~~~Selamat Tinggal Tokwan~~~



Salam, berita sedih buat si dia yang nun jauh disana apabila pemergian tokwan/ datuk semalam. Apa yg menyayat hati di mana si dia tidak dapat bertemu dengan arwah tokwan di saat pengebumian. Dia hanya mampu menggugurkan air mata di kelas. Aku tidak dapat berbuat apa-apa sekadar memberikan semangat pada si dia agar tabah dan cekal menghadapi segalanya.
Buat si dia sedekahkan al-Fatihah kepada arwah, berdoalah selalu mudah2an arwah dapat hidup tenang di sana.
Janganlah terlalu memikirkan kerana ada beberapa perkara yang perlu diselesaikan pada semester ini. Soal wang ketepikan yang penting tugas utama harus diselesaikan dengan baik dan cemerlang.

 Harapan ku agar Dia selalu ceria dan tabah dalam semua keadaan yang menanti Amin.. 
Al-Fatihah untuk Arwah~~~

Saya sediakan satu kisah yang menarik berkenaan dengan tajuk entri kali ini kematian !!

 

 Kenapa Allah S.W.T Merhasiakan Kematian? 


Suatu hari Nabi Ya’qub berdialog dengan Malaikat pencabut nyawa.
“Aku ingin sesuatu yang harus engkau penuhi sebagai tanda persudaraan kita,” pinta Nabi Ya’kub. “Apakah itu.” tanya malaikat maut. “Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku.” Malaikat itu menjawab, “Baik, aku akan memenuhinya. Aku akan mengirimkan tidak hanya satu utusan, tapi dua atau tiga utusan.”
Setelah itu keduanya berpisah.
Hingga setelah lama malaikat itu datang kembali.
“Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk bersilaturrhmi atau untuk mencabut nyawaku?” tanya Nabi Ya’qub. “Aku datang untuk mencabut nyawamu.” jawab malaikat. “Lalu mana ketiga utusanmu?” tanya Nabi Ya’qub lagi.
Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan membungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub itulah utusanku untuk setiap anak Adam. Akan Tetapi, kematian itu tidak hanya akan menimpa kepada orang-orang yang sudah lanjut usia (tua) saja, tapi semua orang baik itu bayi yang baru lahir atau belum lahir, anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua yang sudah jompo sekali. Krn, setiap yang berjiwa baik itu manusia, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya akan merasakan mati, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT yang artinya, “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran (3): 185)

Dilain ayat-Nya Allah SWT menerangkan bahwa kematian itu terjadi atas izin Allah SWT sebagai sebuah ketetapan yang telah ditentukan waktunya.

“ Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya, barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran (3): 145).

Oleh karena itu, dimanapun kita, sedang apa pun kita, kalau Allah SWT sudah menetapkan ketentuan-Nya, bahwa saat ini, menit ini, jam ini, dan hari ini kita di takdirkan mati, maka matilah kita. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS. An-Nisa (4): 78)

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi dan akan menimpa kepada setiap yang berjiwa. Yang jadi masalah adalah tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan menimpa, bahkn Rasulullah SAW sendiri pun tidak diberitahu oleh Allah SWT. Sehingga timbul pertanyaan, kenapa Allah SWT merahasiakan kematian ?

Ada beberapa alasan yang bisa di ambil dari dirahasiakannya kematian itu:

1. Agar kita tidak cinta dunia.
“Dunia adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung di atas jembatan”.
Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir”.
“Barangsiapa mencintai dunianya, niscaya ia akan membahayakan akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhiratnya, niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah apa yang kekal daripada apa yang daripada apa yang binasa.”
Intinya adalah agar kita tidak cinta pada sesuatu yang pasti tiada. Jangan sampai ada makhluk, benda, harta, jabatan yang menjadi penghalang kita dari Allah SWT.

2. Agar kita tidak menunda amal.
Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, semua dirahasiakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kita jangan sampai menunda-nunda ibadah, dan semua amal perbuatan baik yang akan kita lakukan.
“Penundaanmu untuk beramal karena menanti waktu senggang, adalah timbul dari hati yang bodoh.”
Tips untuk mengatur waktu dalam kehidupan duniawi yang mana perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. Utamakan kehidupan akhirat, dan jadikan hidup di dunia sebagai jembatan menuju akhirat, dan jangan menunda waktu beramal
b. Berpaculah dengan waktu, karena apabila salah menggunakan waktu, maka waktu itu akan memenggal kita. Artinya, terputus seseorang dengan waktu, terputus pula amal selanjutnya.
c. Mengejar dunia tidak akan ada habisnya, lepas satu datang pula lainnya. Amal yang tertunda karena habisnya waktu, akan melemahkan semangat untuk menjalankan ibadah. Akibatnya hilang pula wujud kita sebagai hamba Allah yang wajib beribadah.
d. Pergiatlah waktu beramal sebelum tibanya waktu ajal.
e. Perketat waktu ibadah sebelum datang waktu berserah.
f. Jangan menunda amal bakti sebelum datang waktu mati.
g. Aturlah waktu untuk beramal agar kelak tidak menyesal.

3. Agar mencegah maksiat
“Jihadnya seseorang atas dirinya adalah jihad yang lebih sempurna”
Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (QS. An-Nazi’at (79): 40).
Jihad seseorang atas dirinya sendiri dapat berupa mencegah diri dari maksiat, mencegah diri dari apa yang syubhat karena dy ingin menikmatinya kelak di akhirat. Meninggalkan maksiat adalah perjuangan, sedang keengganan meninggalkannya adalah pengingkaran dan satu-satunya jalan keluar adalah ketaatan dan menempatkan diri pada pergaulan yang dapat terhindar dari panggilan dan godaan hawa nafsu itu sendiri.

4. Agar menjadi org yg cerdas.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang merendahkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang bodoh adalah orang yang mengikuti diri pada hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan angan-angan kosong.”
Oleh karena itu, jadilah org yg cerdas. Karena hanya orang yang cerdaslah yang tahu bagaimana mempersiapkan mati. Mereka tahu bagaimana merubah yang fana ini menjadi sesuatu yang kekal. Kematian adalah sesuatu hal yang misterius yang hanya Allah saja yang tahu. Tinggal bagaimana diri kita dalam mempersiapkan diri ini untuk menghadapi kematian yang akan mendatangi kita.
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran (3): 102) Wallahu A‘lam.

sumber: asal


1 comment:

Like This Blog

Anda Juga Meminati :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...